Maaf : Dikejar Uang
Lalu jika anda bertanya apakah uang dan harta benda lainnya memiliki ruh maka saya jawab tidak. Segala benda termasuk uang tidak memiliki ruh seperti kebanyakan makhluk manusia dan hewan, Jin dan Malaikat. Percaya benda dan uang memiliki ruh merupakan kepercayaan nenek moyang yang bukan dari Islam yaitu kepercayaan dinamisme/ animisme. Sebab dengan ruh itu makhluk tersebut memiliki tanggungjawab kepada Tuhan. Dan Tuhan sendirilah yang mengadakan ruh itu kepada manusia.
فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ(29)
Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan) Ku (adam), maka tunduklah kamu (malaikat-Iblis) kepadanya dengan bersujud. QS Al Hijr 29
Namun uang adalah suatu benda seperti benda-benda lainya di alam ini seperti kertas, besi, batu, dll. Ia tidak bertanggung jawab nanti di akhirat. Ia benda mati. Hanya ia tunduk pada aturan sebab akibat. Sebut saja uang kertas akan menjadi lapuk karena dimakan usia. Tetapi semua itu bukanlah pokok yang dibicarakan dalam pertanyaan anda. Tetapi harus dipahami bahwa uang adalah sebagai alat tukar untuk mencapai tujuan seseorang. Jadi meskipun anda tak memiliki uang tunai namun jika dalam segala hal anda telah memiliki apa yang harus ditebus dengan uang tetapi tanpa harus mengeluarkan uang tunai, maka saat itu anda pada hakikatnya telah banyak uang. Meskipun uangnya tidak ada di tangan anda. Contohnya orang berubut beli telur dengan uang mereka. Sedang anda telah memilik telur itu. Atau anda sendiri tidak tertarik memilikinya, sehingga anda bebas dari jeratan uang untuk beli telur.
Seperti halnya apa yang tersebut tentang rezki. Bisakah kita menyebut dan mendefinisikan rezki? Sementara ia disebut banyak dalam al Qur`an. Rezki tak selalu identik dengan uang. Namun dapat selalu dinilai dengan uang. Sehingga obsesi orang selalu tertuju pada uang dalam makna sempitnya. Sehingga timbul pertanyaan anda tentang bagaimana agar dikejar uang atau rezki. Pertanyaan tersebut pada intinya adalah supaya banyak rezki. Tetapi, kebanyakan orang tidak dapat memahaminya. Uang menurut mereka adalah suatu nilai pasti sedangkan rezki dianggap belum pasti. Tetapi menurut saya itu adalah hal yang terbalik. Sebab dalam hal kegunaan uang, ia selalu digunakan untuk mendapatkan benda yang lain, maupun uang digunakan untuk keperluaan kepuasan. Orang ingin masuk ke kebun binatang harus dengan uang. Beli tiket karcisnya (benda jaminan) lalu diberikan kepada penjaganya. Dalam konteks lain bisa terjadi di mana ada orang lain masuk ke kebun binatang hanya dengan anggukan kepala saja, sang penjaga kebun binatang mempersilahkan dia untuk masuk bahkan diantar dengan kereta serta kemuliaan lainnya. Saya tanya kepada anda, apakah anggukan kepala orang itu adalah uang? Atau bernilai uang? Pasti tidak. Sebab di saat lain dia menganggukkan kepalanya justru dia harus bayar uang. Contohnya ketika ia mengangguk di tempat restoran setelah ia makan, sang pramusaji akan datang dan menyodorkan tagihan kepadanya.
Jadi jangan pula berkata uang adalah segalanya. Sebab saat orang tersinggung kepada anda, lalu anda menebusnya dengan uang dan orang itu tidak mau menerima, saat itu uang tetap tidak berguna. Apalagi jika siksa akhirat menanti anda, malaikat tidak dapat anda sogok dengan uang anda.
Jadi uang mengejar anda bukan persoalan karena uang memiliki ruh dan itu bertentangan dengan akidah Islam. Tapi dimaksud dikejar uang adalah anda dipaksa menjadi sukses, baik dengan hanya cara mengangguk atau lambaian tangan atau jaminan lainnya atau dengan uang apa saja maka uang telah ada di tangan anda. Itulah arti bahwa anda diberi anugerah untuk menikmati hidup.
Saya ingin katakan kepada anda, salah satu rahasia agar hajat terkabul adalah dengan memahami ayat ini. Sbb :
وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ(107)
Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Manusia bila diberikan Allah kebaikan yang banyak maka rezki akan datang kepadanya. Dan salah satu rezki itu adalah uang. Semakin banyak kebaikan pada diri seseorang yang Allah berikan maka akan semakin banyak pula rezki orang tersebut. Sebagai ilustrasi, dapat diketengahkan :
- orang yang baik kerjanya pasti memperoleh gajih yang baik bahkan tambahan gajih.
- orang baik akan banyak dipercaya orang dan pada gilirannya akan diberikan orang rezki.
- baik kelakuannya melahirkan nilai kerja dan usahanya semakin meningkat. Seorang pedagang karena ramah terhadap konsumen akan bertambah omset pendapatannya.
- dst.
Oleh karenanya, perbanyaklah kebaikan pada diri anda sebagai nilai tambah pastilah bertambah rezki anda dan uang anda. Pada keadaan tertentu anda akan dikejar uang. Bahkan bukan uang kecil tetapi uang bernilai tinggi karena tingginya nilai kebaikan anda sendiri melebihi kebanyakan orang lain. Bekerjalah, jangan karena uang tetapi ingin menambah kebaikan yang banyak. Maka pasti akan banyak rezki anda.
الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. QS Al Baqarah 2
Lihatlah nabi Muhammad saw, karena terlalu banyak kebaikannya sehingga beliau bukan hanya dikejar dunia, emas permata, dirham dan kehormatan bahkan Jibril as sendiri pernah menawarkan untuk menunjukkan gunung emas kepada beliau. Tetapi beliau menolaknya. Bagi beliau, uang adalah soal mudah. Sebab jika kebaikan selalu bersemayam pada diri seseorang, maka uang bukan lagi persoalan yang harus dicari tetapi justru ia akan mengejar orang tersebut. Wallahu a`lam.



















